Tanggal 27 April 2008, waktu itu sekitar jam 20.40 aku lagi di jalan abis latihan band buat festival. Jalanan cukup sepi. Hingga aku sampai di lampu merah. Sekitar 5 atau 6 motor yang menunggu lampu hijau nyala, sama seperti aku. Hingga konsetrasiku menunggu lampu hijau terpecah oleh suara anak kecil yang memanggilku dari samping sepeda motorku. “ Mas “ katanya. Dia anak berumur sekitar 6 atau 7 tahun, memakai kaos dengan wajah yang kotor. Mungkin dia adalah anak yang biasa ngamen di lampu merah ini. Aku mengira dia akan menyanyi di depanku. Tapi ternyata perkiraanku salah. “ aku bareng nang Klojen mas “ itu adalah lanjutan kata-katanya. Ia meminta nebeng sampai suatu tempat bernama Klojen. Tapi rumaku tidak sampai daerah itu dan akhirnya anak itu meminta diantar sampai perempatan saja. Awalnya aku sempat ragu2 karena kejahatan bisa terjadi dimana saja. Tapi dia adalah anak kecil yang sendirian. Ku pikir tidak mungkin ia akan melakukan kejahatan apalagi bahasanya sangat sopan. Jadi ia kupersilahkan naik ke motorku.
Dalam perjalanan ke perempatan yang dituju sekitar 5-10 menit ia terkadang mengajak saya bicara. Tetap dengan bahasa jawanya yang sangat sopan itu. “Mau pulang ya, Mas?” kira-kira begitu katanya dalam bahasa Indonesia dan dia juga menanyakan jam pada saat itu. Hingga perempatan tujuan sudah terlihat. “Berhenti di depan situ ya, Dek.” Kataku. “Ya mas.” Lalu aku bertanya pada anak itu. “Setelah ini ke klojen naik apa dek?” lalu ia menjawab “ Aku nggak ke klojen mas. Disini aja. Soalnya aku mau ngamen lagi mas. Mau cari uang Rp. 3000 lagi mas buat makan.”dia menjawab sambil turun dan mengucapkan terimakasih. Aku kaget dengan jawabannya. Ternyata dia tidak pulang melainkan masih mencari uang untuk makannya. Pada saat itu aku harus segera jalan karena aku harus memotong jalan. Saat di jalan pulang aku merasa menyesal tidak bisa memberi uang untuk dia membeli makan.
Anak itu adalah sebagian kecil dari anak-anak yang kehilangan haknya karena kesulitan ekonomi atau bahkan karena kekejaman orang tuanya. Saya tidak tahu apakah anak itu membantu orang tuanya atau malah ia dijual orang tuanya pada orang lain dan dijadikan pengamen, atau ia korban penculikan anak. Dimanakah hak yang seharusnya mereka bisa rasakan? Bersekolah, bermain dengan teman-temannya, kasih sayang orang tua, tidur di saat waktunya anak2 tidur….mungkin itu semua hanya terjadi di khayalannya saja. Pasti anak2 itu ingin merasakan itu semua, tapi hak mereka itu telah hilang bersamaan dengan petikan gitar yang mereka alunkan setiap hari di bawah terik matahari hingga sang penjaga malam yaitu bulan mulai nampak. Pada umur yang sangat muda mereka sudah harus berjuang menjalani hidup SENDIRI. Bayangkan jika kita ada di posisi mereka. Kita sendirian. Hingga malam hari. Saat orang lain mulai merasakan empuknya tempat tidur kita masih berjuang untuk bisa mendapatkan sepiring nasi saja. Di saat orang lain merasakan hangatnya kasih sayang orang tua, kita masih menahan kedinginan di jalan.
Pasti tidak ada seorangpun yang ingin hidupnya seperti itu. Untuk itu kita juga harus merangkul mereka. Jangan biarkan anak yang masih kecil sudah mengerjakan tugas orang dewasa. Mereka masih memiliki hak dan keinginan untuk sekolah dan sukses. Dan semua itu adalah kewajiban kita semua untuk menolak mempekerjakan anak di bawah umur. Karena mereka juga harus merasakan betapa menyenangkannya masa kecil.
Pasti akan indah jika mereka bisa tersenyum bersama kita
Dalam perjalanan ke perempatan yang dituju sekitar 5-10 menit ia terkadang mengajak saya bicara. Tetap dengan bahasa jawanya yang sangat sopan itu. “Mau pulang ya, Mas?” kira-kira begitu katanya dalam bahasa Indonesia dan dia juga menanyakan jam pada saat itu. Hingga perempatan tujuan sudah terlihat. “Berhenti di depan situ ya, Dek.” Kataku. “Ya mas.” Lalu aku bertanya pada anak itu. “Setelah ini ke klojen naik apa dek?” lalu ia menjawab “ Aku nggak ke klojen mas. Disini aja. Soalnya aku mau ngamen lagi mas. Mau cari uang Rp. 3000 lagi mas buat makan.”dia menjawab sambil turun dan mengucapkan terimakasih. Aku kaget dengan jawabannya. Ternyata dia tidak pulang melainkan masih mencari uang untuk makannya. Pada saat itu aku harus segera jalan karena aku harus memotong jalan. Saat di jalan pulang aku merasa menyesal tidak bisa memberi uang untuk dia membeli makan.
Anak itu adalah sebagian kecil dari anak-anak yang kehilangan haknya karena kesulitan ekonomi atau bahkan karena kekejaman orang tuanya. Saya tidak tahu apakah anak itu membantu orang tuanya atau malah ia dijual orang tuanya pada orang lain dan dijadikan pengamen, atau ia korban penculikan anak. Dimanakah hak yang seharusnya mereka bisa rasakan? Bersekolah, bermain dengan teman-temannya, kasih sayang orang tua, tidur di saat waktunya anak2 tidur….mungkin itu semua hanya terjadi di khayalannya saja. Pasti anak2 itu ingin merasakan itu semua, tapi hak mereka itu telah hilang bersamaan dengan petikan gitar yang mereka alunkan setiap hari di bawah terik matahari hingga sang penjaga malam yaitu bulan mulai nampak. Pada umur yang sangat muda mereka sudah harus berjuang menjalani hidup SENDIRI. Bayangkan jika kita ada di posisi mereka. Kita sendirian. Hingga malam hari. Saat orang lain mulai merasakan empuknya tempat tidur kita masih berjuang untuk bisa mendapatkan sepiring nasi saja. Di saat orang lain merasakan hangatnya kasih sayang orang tua, kita masih menahan kedinginan di jalan.
Pasti tidak ada seorangpun yang ingin hidupnya seperti itu. Untuk itu kita juga harus merangkul mereka. Jangan biarkan anak yang masih kecil sudah mengerjakan tugas orang dewasa. Mereka masih memiliki hak dan keinginan untuk sekolah dan sukses. Dan semua itu adalah kewajiban kita semua untuk menolak mempekerjakan anak di bawah umur. Karena mereka juga harus merasakan betapa menyenangkannya masa kecil.
Pasti akan indah jika mereka bisa tersenyum bersama kita



0 komentar:
Poskan Komentar